MASIGNASUKAv102
7301652214019600311

Tentang Penghapusan Ujian Nasional 2021

Tentang Penghapusan Ujian Nasional 2021
Add Comments
19 Desember 2019

Yang sedang ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan sekarang yaitu soal penghapusan UN di indonesia sekarang, dari program kemendikbud Nadiem Makarim yang juga seorang CEO Gojek. Dalam pelaksanaannya penghapusan UN akan mulai diterapkan tahun 2021, yang sekolah tersebut yang mau mengambilnya atau melaksanakannya.

Kemendikbud Nadiem Makarim juga diminta oleh pengamat pendidikan untuk banyak menjelasakan kepada masyarakat bagaimana penerapan tentang penghapusan UN ini dan bagaimana solusinya juga.

Dalam program ini banyak terjadi pro dan kontra dari wali murid maupun siswa sendiri, dengan begitu perlu banyaknya sosialisasi tentang program lanjutan setelah penghapusan UN, agar masyarakat mengerti dengan jelas bagaimana tujuan dari penghapusan UN ini.

Banyak tokoh pendidikan yang setuju dengan keputusan kemndikbud Nadiem Makarim tentang penghapusan UN ini, Nadiem Makarim memastikan akan menghapus UN tahun 2021, yang nantinya akan diganti dengan program pembelajaran  asesmen kompetensi minimum dan survei karakter.

Baca Juga; Bagaimana Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia?

Dengan adanya keputusan ini reaksi dari guru dan siswa pun sangat beragam adanya. Bapak Nadiem Makarim mengatakan jika penerapan sistem baru ini diterapkan, diharapkan untuk sekolah harus bisa menerapkan pembelajaran sesungguhnya dari sistem yang baru ini, yang sesuai rencana penghapusan UN diterapkan tahun 2021.

Berikut saya akan memberikan beberapa point penting dalam penghapusan UN ini;

1. UN Akan Menjadi Berganti Penilaiannya yaitu Asesmen Kompetensi Minimun Dan Survei Karakter

Kita mulai dari asesmen kompetensi minimum ini dulu dalam sistem pembelajaran ini tidak lagi berdasarkan pada pelajaran melainkan literasi dan numerasi. Bisa kita pahami dengan mudah apa itu perbedaan antara literasi dan numerasi. Kita mulai dari literasi terlebih dahulu yaitu; siswa dituntut untuk bisa menganalisis suatu bacaan serta diteruskan dalam mampu untuk mengerti atau memahami dibalik konsep tulisan tersebut. Sebaliknya Kalau numerasi lebih pada memahami dari angka - angka. Ada juga survei karakter sebagai penguatan pendidikan karakter.

2. Penilaian Berubah

Asesmen kompetensi minimum dan survei karakter akan dilaksanankan pada pertengahan jenjang pendidikan dan bukan lagi diakhir seperti yg dulu.  Penjelasan yang dapat saya pahami tentang penilian dilaksanakan pada pertengahan jenjang dikarenakan sekolah dapat memperbaiki siswa sebelum nantinya akan lulus dari sekolah dan menurut saya sendiri ini sangat efisien dilaksanakan terutama untuk SMA yang pertengahan justru banyak yang santai - santai dan diakhir masa jenjang pendidikan disibukan dengan banyak hal, mulai dari Try Out,USBN, UN, persiapan masuk kuliah dll. Yang waktu tersebut membuat siswa tidak bisa produktiv.

3. UN Tidak Menjadi Alat Seleksi

Dalam sistem asesmen kompetensi minimum dan survei karakter tidak bisa dikatakan sebagai dasar seleksi. Nantinya siswa tidak bisa menggunakan nilai ini untuk melanjutkan jenjang perguruan tinggi. Dalam ucapannya Kemendikbud Nadiem Makarim menyimpulkan bahwa siswa tidak bisa diases dengan menghitung kompetensinya saja.